Tampilkan postingan dengan label Karguzari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karguzari. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 September 2014

Masjid Raiwin: Pusat Dakwah Tanpa TV & Komputer

Masjid ini terletak di desa Raiwind, dekat kota Lahore. Disana terdapat sebah masjid yang sangat hidup kegiatannya (dakwah ila Alloh, taklim wa taklum, dzikir ibadah, serta khidmat/pelayanan) dan sangat lengkap fasilitasnya. Setidak-tidaknya ada 20.000 hingga 35.000 jamaah setiap waktunya yang memakmurkan masjid Raiwind. Ratusan jamaah keluar masuk setiap harinya. Dari masjid tersebut dikirim jamaah –jamaah dakwah ke seluruh penjuru dunia. Tidak ada satu pun negara di dunia ini yang belum pernah didatangi oleh jamaah dari masjid ini.


Demikian juga, setiap hari ratusan jamaah dari berbagai penjuru dunia datang ke masjid ini. Kebanyakan tamu-tamu tersebut berasal dari Timur Tengah dan Asia Tenggara seperti Malaysia dan sekitarnya. Jamaah-jamaah tersebut paling lama akan tinggal tujuh hari di Masjid Raiwind. Setelah itu mereka akan segera dikirimkan ke negara atau tempat yang dituju berdasarkan musyawarah. Mereka akan dikirim untuk waktu yang berbeda-beda, ada yang untuk sebulan, dua bulan, dua puluh hari, empat puluh hari dan sebagainya. Setelah selesai dari masanya, mereka akan kembali ke Masjid Raiwind, baru setelah itu mereka kan kembali ke rumahnya masing-masing untuk melanjutkan kerja agama di kampungnya masing-masing.

Selama di Masjid Raiwind, para jamaah akan dilayani dengan berbagai fasilitas. Kamar khusus tamu-tamu luar negeri. Klinik pengobatan dan perawatan dengan dokter-dokter gratis. Makan tiga kali sehari dengan menu yang cukup. Kantin dan pertokoan yang sangat lengkap. Tidak ada satupun dari petugas yang bekerja di Masjid Raiwind itu dibayar seperakpun. Bahkan seandainya ada yang dibayar, mereka akan marah. Dari tukang masak, pekerja bangunan, pelayan kebersihan, pembersih WC, dokter, tukang besi, pengurus tiket, pengurus toko, pengurus visa, pengurus kamar dan lain-lainnnya. Semua itu bekerja dengan ikhlas tanpa ada bayaran sedikitpun. Setiap harinya kurang lebih 700 orang yang bekerja di lokasi Masjid Raiwind.

Suatu ketika pernah ada seorang Komunis Rusia datang ke Masjid Raiwind. Ketika ia berkeliling melihat-lihat berbagai kegiatan di Masjid Raiwind, maka ia bertanya, “Berapakah jumlah orang yang bekerja setiap harinya mengurus tamu-tamu ini?” Dijawab: “Sekitar 700 orang”. “Berapa biaya yang dibutuhkan??” Dijawab: “Tidak ada sepeser rupiahpun, semuanya bekerja Lillahi Ta’ala. Maka mendengar hal itu, ia mencoba tinggal beberapa lama untuk membuktikan kebenarannya, ternyata demikianlah sebenarnya, maka ia pun langsung masuk Islam.

Ribuan orang telah masuk Islam dengan sebab pergerakan dakwah dari Raiwind ini. Konon Masjid Raiwind ini telah ditandai merah oleh pusat-pusat intelijen dunia, karena aktivitas agamanya yang sangat mendunia. Banyak para intelijen berbagai Negara dikirim ke Raiwind untuk memantau kegiatan agama disana dengan manyamar. Akan tetapi sebagian besar mereka setelah menyelidiki dengan mendalam keadaan di Raiwind justru akhirnya masuk Islam dengan sungguh-sungguh.

Di dalam Masjid Raiwind terdapat pondok pesantren, dengan ribuan santri dari ratusan Negara. Lulusannya tidak terhitung jumlahnya. Pada bulan Romadhon , para huffaznya adalah langganan tetap untuk menjadi imam di barbagai negara di Eropa dan Amerika. Di Raiwind berkumpul berbagai pakar. Tidak sedikit ulama yang menguasai 10 sampai 15 bahasa asing. Ada yang khusus pakar dibidang tafsir, hadits, adab dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Di Masjid Raiwind juga terdapat para dai yang telah menghabiskan masa hidupnya untuk dakwah. Mereka disebut muqimin. Mereka adalah para pensiunan pejabat kelas atas, para pensiunan jenderal, para konglomerat yang jumlahnya mencapai hampir seribu orang. Mereka telah mewaqafkan hidup mereka untuk umat, Melalui sebab merekalah telah banyak negeri-negeri diujung Eropa, Afrika, Amerika, juga dikawasan Asia terbuka denga islam.

Kini mereka mengatur segala yang berhubungan dengan pergerakan dakwah dan tabligh diseluruh dunia. Merekalah yang memberikan petunjuk, mengatur rute-rute jamaah, mempersiapkan petunjuk jalan bagi jamaah, melayani para tamu, mengatur akomodasi, mengirim dan menarik jamaah, melayani para tamu, memperhatikan perkembangan setiap kampung yang didatangi dan yang ditinggal di seluruh dinia, menangani masalah masturah, pergerakan wanita-wanita da’iyyah, menangani para pelajar, para eksekutif, para ilmuwan dan cendekiawan, menangani birokrasi, perizinan dan lain sebagainya.

Walaupun demikian padat dengan berbagai kegiatan dan hiruk pikuk manusia tiada henti. Markas di raiwind sangat sederhana, tiada kecanggihan disana. Komputer, TV, telepon, ataupun alat-alat elektronik lainnya sama sekalit tidak ada. Bahkan media majalah, Koran, bulletin dan lainnya pun tidak ada. Tidak ada sehelai datapun yang ditulis dengan komputer. Semua diarsipkan melalui tulisan tangan. Dan hal itu dilakukan selama bertahun-tahun. Satu-satunya kecanggihan yang ada hanyalah, bahwa sebagian gedungnya menggunakan lift.

Sumber: Kupas tuntas jamaah tabligh, Jilid 3 http://tetesanhujan.wordpress.com
« Baca Selengkapnya »

Minggu, 31 Agustus 2014

Melbourne Semarak oleh Tabligh

Sumber: Hidayatullah.com
Tanggal: Oktober 1999/Jumadil Akhir-Rajab 1420

Desember ini (1999 red), Melbourne akan menjadi tuan rumah ijtima’ (pertemuan) jamaah tabligh dari seluruh benua Australia, termasuk negara-negara kepulauan Pasifik Selatan. Berikut catatan Sahid setelah mengikuti kegiatan mereka, Oktober lalu.

Islam bukanlah gejala baru di Australia. Masuknya Islam ke benua Aborigin ini hanya berselang satu abad setelah datangnya orang-orang Inggris pertama di abad ke-18. Jumlah ummat Islam di Australia diperkirakan sekarang mencapai angka 300 ribuan. Dengan sejarah yang panjang dan jumlah yang tidak lagi sedikit, wajarlah bila tingkat keragamannya pun tinggi. Dari lapisan muslim yang masih taat dan aktif berdakwah, sampai yang tinggal Islam KTP-nya saja ada.Bahkan, ada yang menjawab salam pun sudah tak bisa.

WARNA BARU

Di tengah situasi itu, sejak awal tahun 1970-an, gerakan jamaah tabligh menggoreskan warna baru dalam perkembangan peta ummat Islam di Australia.

Setidaknya, sejauh pengamatan dan keterlibatan Sahid selama hampir 4 bulan di Australia, tabligh telah menjadi suatu gerakan dakwah yang sangat dinamis sekarang dan di masa mendatang.

Dilahirkan di India, gerakan ini merupakan hasil ijtihad seorang ulama bernama Maulana Ilyas, sekitar 70 tahun yang silam. Gagasannya sederhana, namun sangat tajam dan efektif. Yaitu meluangkan waktu untuk sepenuhnya berada di dalam atmosfir dien di masjid dalam waktu tertentu. Targetnya, agar manusia makin faham akan tujuan penciptaan dirinya di muka bumi. Sebuah persoalan yang sangat fundamental.

Sasaran sekunder, memindahkan suasana dien tadi dari masjid ke lingkungan manapun di luar masjid, terutama ke rumah. Setiap orang disarankan meluangkan waktu setidaknya dua jam sehari.Isinya berta’lim, membaca hadits, mengaji Qur’an, dan berpikir mengenai bagaimana syiar Islam. Lalu berjaulah, mengunjungi rumah-rumah ummat Islam di sekitar masjid setidaknya seminggu sekali. Lebih jauh lagi, keluar di jalan Allah setidaknya tiga hari dalam sebulan, empat puluh hari dalam setahun, dan empat bulan dalam seumur hidup.

Kesan pertama dari penampilan fisik mereka yang memakai gamis atau jubah, surban, dan memelihara janggut, memang merupakan sunnah-sunnah yang sudah asing bagi kebanyakan ummat Islam. Tetapi aktivis tabligh yakin, dengan niat yang ikhlas dan akhlak yang baik, kesan ‘asing’ itu akan segera hilang.

Kini poros India-Pakistan-Bangladesh, tempat gerakan ini berbasis, menjadi semacam base camp bagi para aktivis tabligh. Setiap orang disarankan meluangkan empat bulan khuruj-nya ke tiga negara di Asia Selatan tersebut. Kenapa harus ke sana? Zakaria, mahasiswa Charles Sturt University yang juga seorang karkun (sebutan bagi aktivis tabligh; bahasa India) menerangkan kepada Sahid, “India-Pakistan-Bangladesh bisa diibaratkan sebagai centre of excellence sebagaimana Universitas Al-Azhar, Madinah, Harvard, Oxford, atau MIT bagi ilmu-ilmu.”

Aktivis tabligh didorong untuk berangkat ke sana agar kualitasnya meningkat. Bedanya, kalau di universitas dunia kita belajar ilmu, di India-Pakistan-Bangladesh kita belajar amal akhirat, kata Zakaria. Awal tahun ini, jaringan televisi kabel ternama CNN melaporkan ‘the second biggest muslims gathering after hajj’ di Pakistan, yang tak lain adalah ijtima’ jamaah tabligh ini untuk tingkat dunia. Sekitar dua juta orang diperkirakan berkumpul pada saat itu.

DARI WAGGA KE MELBOURNE

Bagi kota-kota kecil seperti Wagga-Wagga, tempat Sahid menetap, Melbourne sebagai markas telah menjadi semacam India-Pakistan-Bangladesh-nya Australia.

Sore itu di awal Oktober, saya dan Raja Shahruddin, mahasiswa asal Malaysia, berencana bergabung dengan markas jamaah tabligh di Melbourne. Sebelum kami bertolak dari surau kampus, ada bayan hidayah (semacam briefing) dari seorang brother di Wagga. Isinya yang utama ada tiga, senantiasa meluruskan niat karena Allah; bahwa perjalanan ini untuk memperbaiki kualitas iman pada diri sendiri, baru yang berikutnya untuk mengajak orang lain; dan terakhir, petunjuk-petunjuk teknis mengenai hubungan dengan manusia lain.

Misalnya, agar menjaga mulut mengurangi percakapan tentang dunia selama perjalanan. Agar memperbanyak dzikir dan doa karena orang yang ada di jalan Allah doanya maqbul, dan yang semacamnya.
Lepas ashar kami bertolak diiringi doa. Perjalanan mobil Wagga-Melbourne petang itu kami kebut lima jam. Berbeda dengan di Indonesia, jalan bebas hambatan dari Albury, di perbatasan New South Wales dan Victoria, ke Melbourne yang jaraknya 350 kilometer gratis. Tak ada bayar-bayaran tol. Lansekap indah alam pedesaan, kerumunan domba, ladang gandum serba luas, padang stepa dan bebukitan hijau permai New South Wales-Victoria, ujung-ujungnya bertemu dengan layar langit yang biru sempurna. Semua cuma bisa dinikmati sebentar. Hujan lebat dan gelapnya malam segera menyergap Nissan Bluebird station milik Shah yang meluncur cepat.

Melbourne dingin malam itu, hampir seperti di saat winter. Trem-trem listrik masih beringsut menyusuri jalan-jalan kota dan kawasan suburban. Merkuri ribuan watt dan lampu-lampu kota meredam cahaya gemintang di langit Kutub Selatan.

Hawa dingin tadi segera terusir oleh suasana hangat begitu kami memasuki masjid Umar ben-Khattab, di Preston. Masjid waqaf pemerintah Arab Saudi ini selesai dibangun enam tahun silam. Kini menjadi markas jamaah tabligh di seluruh Melbourne dan Australia. Setiap Jumat malam mereka berkumpul dan beritikaf di sini. Sebuah kaligrafi kain ukuran besar dengan warna lembut tergantung persis di atas mihrab. Tulisannya, “Fabi ayyi aalaa i rabbikumaa tukadzdzibaan, maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kau dustakan?”

PAKAIAN YANG SAMA

Di depan mihrab, seorang tua berjanggut putih dari Srilanka sedang menyampaikan bayan (ceramah) dibantu seorang penerjemah. Tak kurang dari dua ratus orang duduk rapat-rapat, tekun mendengarkan ceramah itu.
Mereka berasal dari berbagai bangsa imigran seperti dari Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan banyak lagi termasuk Australia sendiri. ‘Pakaian’ mereka semua sama; Islam. Masya Allah, masya Allah! Rasanya seperti bukan di Melbourne. Rasanya seperti berada di salah satu sudut masjid Nabawi, di Madinah Al-Munawwarah.

Usai shalat Isya’, makan malam bersama. Duduk berjajar, menunggu nampan datang sambil berdoa, lalu makanan satu nampan di makan tiga atau empat orang. Mulai sikap kepada makanan sampai cara duduk, semua mengikut sunnah.

Tiba-tiba sebuah suara orang Jawa yang sangat medok mengagetkan saya. “Anda dari Indonesia kan? Ini saya kasih tahu!” kata seorang lelaki tersenyum, sambil menyodorkan sebuah nampan penuh dengan nasi dan sayur tahu. Waduh, ini lidah saya sudah empat bulan tak ketemu tahu. Alhamdulillah.

Sebelum tidur, ada pembacaan hayatush shahabah, kisah kehidupan para sahabat Nabi, lalu ada kalkuzari, semacam laporan perjalanan. Malam itu seorang brother keturunan Eritrea memberi laporan khuruj-nya dari Kaledonia Baru, sebuah negara kepulauan di Pasifik Selatan.

Diceritakannya betapa masyarakat muslim di wilayah bekas jajahan Prancis itu, yang terdiri dari keturunan India dan Jawa, telah jauh dari Islamnya. Merasa senang akan kedatangan saudara-saudaranya dari Melbourne, mereka minta lain kali didatangkan jamaah lagi.

Paginya, sehabis shubuh, seorang brother asal Bosnia yang lahir di Australia memberikan bayan shubuh. Rupanya ia baru saja pulang dari kampung ayah ibunya Bosnia-Herzegovina, memimpin sebuah jamaah tabligh pertama yang datang setelah perang berhenti di kawasan Balkan.

LUPA DUNIA

Tapi apa betul para aktivis tabligh yang ‘selalu ingat mati’ ini melupakan kehidupan dunia? Tudingan ini hampir tak pernah serta-merta mereka bantah dengan ucapan. Silakan dinilai sendiri.

Selama di masjid mereka tak pernah bicara bisnis. Tapi Mobil-mobil macam Toyota Tarago station yang di Jakarta tergolong mewah, Toyota Cressida, Honda Civic Genio dan merek-merek wah lainnya tiap Jum’at malam nangkring di halaman masjid Preston. Itu saja bisa menunjukkan cita rasa mereka pada teknologi maju, sejauh bisa difungsikan di jalan Allah.

Para karkun ini juga dikenal sebagai pekerja keras di bidangnya masing-masing. Ada yang supir taksi, tukang kayu, juragan butchery (rumah pemotongan hewan ternak), insinyur, birokrat, pedagang dan lain-lain. Mahasiswa yang aktif dalam gerakan inipun, meski rata-rata low profile, di kampus punya prestasi yang selalu bisa dibanggakan. Abdul Razak, mahasiswa ilmu-ilmu sosial di Charles Sturt University, merasa tak puas jika tugas-tugas yang dikerjakannya tak mendapat predikat excellent. “Prestasi belajar juga bagian dari dakwah kita kepada teman lain,” katanya merendah. Mereka dikenal mahasiswa yang belajar dengan disiplin spartan. Di Wagga, beberapa mahasiswa yang aktif bertabligh biasa mengorganisasi kegiatannya dengan telepon genggam yang bukan lagi barang mewah.

Di Australia sendiri, sejak awal tahun 1970-an, gerakan ini berkembang pesat hingga sekarang. Dipimpin oleh Syaikh Muhtaz asal Mesir, pusatnya di Melbourne tidak lagi hanya mengarahkan sasaran dakwahnya ke Melbourne, Sydney, Perth, Darwin, dan kota-kota di pulau Australia.

Tapi juga melebar ke kepulauan Pasifik Selatan, seperti Vanuatu, Samoa, Fiji, Kaledonia Baru, ke China, Eropa, Afrika, dan Asia Tenggara. Ini terlihat dari pembicaraan yang berkembang dalam musyawarah bulanan yang sempat Sahid ikuti.

Musyawarah ini berlangsung di kawasan Folkner, di pinggiran Melbourne.Markas Tabligh Australia yang baru di kawasan ini adalah bekas komplek sekolah dasar di atas sebidang tanah seluas kira-kira 3 hektar.
Sehari-hari tempat ini dipakai untuk madrasah diniyah bagi anak-anak para karkun. “Sedang diusahakan agar madrasah ini disamakan statusnya dengan sekolah dasar umum,” jelas Ruslan, seorang karkun asal Malaysia. Dalam musyawarah bulanan tadi, masing-masing pusat gerakan di Melbourne memberikan laporan dan rencana-rencana kegiatan kepada Syaikh Muhtaz dalam suatu forum terbuka. Lalu Amir Shaf -sebutan bagi pemimpin markas- mengarahkan pembicaraan pada rencana dakwah ke luar Australia. Ada beberapa kelebihan Australia dalam hal dakwah regional dan internasional ini.

Pertama, para karkun Australia menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar utama, yang merupakan bahasa internasional.

Kedua, kebanyakan aktivis tabligh di Australia adalah keturunan kaum imigran dari berbagai belahan dunia. Mereka akan menjadi pasukan dakwah yang ‘kuat’ secara psikologis bila dikirimkan ke tanah kakek-neneknya. Contohnya Lukman, 39, keturunan Italia bermata abu-abu yang lahir di Australia. Kepada Sahid ia membagi pengalamannya baru-baru ini ber-jaulah ke kampung ibu-bapaknya di kepulauan Sisilia, gudangnya mafia dan gangster kelas kakap. Katanya, kini di seluruh Italia ada 200-an masjid. “Kedatangan kami dari Australia disambut baik sebagai dukungan moril yang kuat bagi berkembangnya Islam di Italia,” cerita Lukman sambil tersenyum.

PERHATIAN PADA INDONESIA

Dalam musyawarah bulanan di Folkner itu, Syaikh Muhtaz menekankan agar para karkun memberi perhatian khusus bagi Indonesia.

Ia bercerita, bahwa Maulana Hadraji rahmatullah ‘alaih, pimpinan gerakan tabligh sedunia yang baru wafat beberapa tahun lalu, bermalam-malam tak bisa tidur setelah mendengar berita, bahwa musuh-musuh Islam berencana meng-Kristen-kan Indonesia dalam waktu 50 tahun.

Di Australia sendiri, penampilan para aktivis tabligh yang rendah hati dan menjauhkan diri dari soal-soal khilafiyah dan politik praktis, cukup ampuh menyelesaikan berbagai ketidakharmonisan hubungan antar ummat Islam. Pesan utama bayan atau ceramah para aktivis tabligh biasanya berisi enam hal standar, yaitu tentang keutamaan kalimah tayyibah (Laa ilaha illallaah, Muhammadan rasulullah); lalu membesarkan nama Allah dengan shalat yang khusyu'; ilmu dan dzikir; ikram (memuliakan) sesama muslimin; ikhlaskan niat; dan yang terakhir, tentang pentingnya setiap individu muslim melakukan dakwah dan tabligh.

Menghindari soal khilafiyah dan siyasah (politik), membuatnya mudah diterima oleh semua masyarakat. Rombongan jaulah yang saya dan Shah ikuti adalah suatu contoh nyata.Dalam jaulah dua hari satu malam di akhir minggu, kami bergabung dengan jamaah 8 orang yang mayoritas terdiri dari keturunan Bosnia.

Masjid yang dipilih untuk beri’tikaf adalah Masjid An-Nur milik masyarakat Kroasia. Terletak di kawasan Maidstone, 15 tahun yang lalu bangunan kayu itu adalah sebuah gereja yang dibeli menjadi masjid. Di sebelahnya ada sebuah bangunan yang lebih kecil, Islamic Center-nya masyarakat Kroasia. Sudah jadi rahasia umum, bahwa walau sesama muslim, orang Kroasia cenderung tak bisa akur dengan orang Bosnia. Masjid Kroasia yang berada di dekat pemukiman komunitas Bosnia itu tak pernah dikunjungi oleh orang Bosnia, kecuali orang Lebanon, Eriteria, dan Somalia.

Sebaliknya, masyarakat Bosnia -yang dikenal berperangai halus- sendiri akhirnya membangun masjid tak jauh dari kawasan itu. Keputusan ini merupakan klimaks ketidakharmonisan hubungan itu. Ironisnya, belum seratus persen masjid jadi, kaca-kacanya pecah berantakan diserang beberapa orang Kroasia yang tak bertanggung jawab.

Cerita sedih ini tidak saya dapatkan dari brothers Bosnia yang sejamaah dengan saya. Melainkan dari beberapa brothers tempatan asal Aljazair, Fiji, dan Somalia
.
Di hari kedua jaulah, brothers dari Bosnia ini lagi-lagi memilih sasaran yang menantang. Yakni sebuah masjid milik masyarakat Turki yang dikenal keras, tak mau menerima rombongan tabligh beri’tikaf di situ. Saya kagum pada ghirah saudara-saudara Bosnia ini.

Pengalaman beberapa hari di Melbourne sangat mengesankan. Bertemu masyarakat muslim yang ghirah-nya kuat dan masjid yang makmur membuat saya tak merasa menyesal karena tak sempat ke The Great Ocean Road, sebuah kawasan pantai tebing yang terkenal indahnya. Lokasinya 3 jam dari Melbourne ke Adelaide, South Australia.

Dalam perjalanan pulang ke Wagga, saya melirik ke arah Shah. Di matanya ada semangat baru yang segar, yang sudah tak sabar diguyurkan kepada teman-temannya. Agar kota kecil Wagga-wagga semakin marak dengan dakwahnya.

« Baca Selengkapnya »

Rabu, 27 Agustus 2014

Testimoni Tentang Jamaah Tabligh saat di Jepang

Sabtu lalu saat melaksanakan kegiatan wajib mingguan, berbelanja pekanan, tiba-tiba teman dari Pakistan menghampiri. Dia lalu berkata, brother, There’s an indonesian muslim from Osaka now in Toyama Mosque, He wants to meet indonesian Muslims here. Do you want to meet him ?. Saya tanpa pikir panjang mengiyakan, bukankah sesama orang Indonesia diperantauan selayaknya kita adalah keluarga, terlebih lagi memang kita telah dipersaudarakan oleh satu syahadat. Lalu teman itupun memberikan nomor hp saya ke teman pakistan yang berada di mesjid Toyama.

Tak lama berselang, saat saya di bus, ada panggilan dari nomor yang tak dikenal. Setelah dua kali melakukan penggilan akhirnya saya memutuskan mengangkatnya dengan resiko akan ditegur supir bus. Di Jepang tak boleh mengangkat telpon di dalam bus. Setelah memberi salam, saudara Indonesia ini memperkenalkan diri namanya Rizal asal Sumatera seraya meminta izin untuk berkunjung ke rumah kontrakan. Sayapun menyambut baik niatnya. Dari pembicaraan awal saya sudah bisa menebak bahwa beliau adalah anggota Jamaah Tabligh. Maklumlah saya sudah tidak asing dengan organisasi ini. Rumah saya di Makassar sering dijadikan persinggahan oleh saudara-saudara Jamaah Tabligh yang berasal dari atau akan ke Papua. Bahkan beberapa sudah seperti saudara.

Setelah sampai di rumah kontrakan, saya membicarakan maksud kedatangan saudara dari Osaka ini ke housemate saya, pak Aminullah (dosen Farmasi Unhas), dan beliau tak masalah. Sayapun mengingatkan bahwa saudara yang datang ini kemungkinan adalah jamaah tabligh karena dia akan datang bersama orang Pakistan, yang notabene disini adalah anggota Jamaah tabligh. Saya sengaja mengingatkan karena takutnya beliaunya akan risih karena pasti akan ada sesi ajakan dan dakwah yang akan kami dapatkan. Tetapi ternyata beliaupun tak asing lagi dengan jamaah ini. Karena telah setuju, maka kamipun bersiap-siap di rumah untuk menyambut tamu kami ini.

Selepas ashar, tamu kami ini tiba di rumah setelah saya jemput di tempat yang kami sepakati. Saudara Rizal pun turun dari mobil dan menjabat erat tangan saya. Sayapun langsung bisa memastikan bahwa tebakan saya benar, beliau adalah anggota jamaah. Saudara Rizal ini berumur sekitar 36-37 tahunan dan berasal dari Padang. Yang menemani beliau ada dua orang, salah satunya saudara Imran dari Pakistan dan satu lagi saudara yang berasal dari India, juga datang dari Osaka, yang kira-kira seumuran dengan saya.

Setelah berbincang cukup akrab, maka mulailah saudara Rizal sedikit demi sedikit memberikan nasehat kepada kami. Beliau memulai dengan mengatakan bahwa dia memakai Jubah karena ingin mengikuti Nabi dan dia tidak berasal dari golongan atau kelompok manapun. Sayapun sengaja tak mau mengungkapkan bahwa saya sudah akrab dengan jamaah mereka. Takut merusak semangatnya dalam memberikan nasehat kepada saya. Setelah menjelaskan mengenai latar belakangnya, maka beliaupun mengingatkan tentang pentingnya Dakwah dilakukan dilingkungan sekitar kita. Karena kita di Jepang bukanlah tanpa alasan. Kita sebagai representasi umat Islam memiliki kewajiban untuk menyampaikan kalimat Allah kepada mereka yang belum tahu. Sayapun tertegun dan sedikit merenung, memang saya sangat malu belum mampu melakukan itu.
Saudara dari Indiapun menambahkan betapa pentingnya melakukan dakwah. Dengan bahasa Inggris yang sangat bagus, membuat saya keteteran ketika berbincang. Selepas berbincang-bincang, saudara Rizal mengajak saya dan pak Aminullah untuk ikut mereka ke Mesjid Toyama, karena disana masih ada lagi dua orang saudara Indonesia yang menunggu dan ingin bertemu. Dengan pertimbangan ukhuwah islamiyah saya dan pak Aminullah pun mengiyakan, walaupun kami tahu itu bukan sekedar untuk bertemu biasa saja.
Maka berangkatlah kami, tetapi sebelum sampai ke Mesjid Toyama, kami singgah terlebih dahulu di Mushallah Toyama, untuk menjemput beberapa saudara yang lain yang berasal dari India dan Pakistan. Di Mushallah inipun, saudara Rizal saya pertemukan dengan pak Azis Saifuddin, salah satu saudara Indonesia senior disini. Perbicangan akrab yang membahas kondisi kekinian perkembangan agama Islam di Indonesia pun berlanjut. Walaupun dibumbui dengan diskusi mengenai beberapa perbedaan. *smile

Sekitar pukul lima lewat kamipun berangkat ke Mesjid Toyama. Mesjid ini adalah satu-satunya mesjid di Kota kami, yang dibangun dan dikelola oleh saudara-saudara dari Pakistan. Jarak mesjid ini cukup jauh dari tempat tinggal saya, sekitar 35 menit menggunakan mobil. Dan satu-satunya yang jadi masalah bagi saya adalah karena tak punya kendaraan pribadi maka saya tak bisa sering-sering menjangkau mesjid ini. Pun kendaraan umum tak ada yang sampai di mesjid ini.

Doc. Ferry Fatur

Setibanya di Mesjid Toyama, shalat maghrib tengah dilaksanakan. Setengah mesjid telah terisi penuh oleh saudara-saudara dari Pakistan dan India yang bisa saya tebak anggota Jamaah Tabligh. Setelah shalat maghrib kami laksanakan, saudara Rizal memperkenalkan kami dengan dengan dua orang Indonesia lainnya, saudara Sony dan Tri. Mereka berdua adalah kenkyusei (orang Indonesia yang bekerja di Jepang dengan sistem kontrak, maksimal 3 tahun). Nampaknya mereka berdua masih dalam tahap simpatisan Jamaah Tabligh.

Selama di Mesjid Toyama malam itu, setidaknya saya mendapatkan tiga sesi ceramah keagaamaan. Inti dari ketiga sesi ceramah ini adalah agar kita mengikuti pengorbanan Nabiullah Ibrahim AS dalam mengikuti perintah Allah SWT dan keteladanan dari para sahabat dalam melakukan dakwah Islam. Dakwah Islam dalam terminologi Jamaah Tabligh dilakukan dengan cara khuruj. Khuruj adalah meluangkan waktu untuk secara total berdakwah. Berdakwah dengan cara khuruj bisa dilakukan minimal selama empat bulan dalam seumur hidup ataupun 40 hari setiap tahun. Namun, bagi para anggota yang terikat dengan jam kantor, khuruj cukup dilakukan selama tiga hari setiap bulannya. Dalam sesi tersebut juga dijelaskan dalil yang mereka pergunakan mengapa melakukan khuruj. Jadi dapat dikatakan saudara Rizal dan saudara-saudara dari Osaka sedang melakukan khuruj di Toyama.

Dalam sesi ceramah ini, saya juga mendapatkan pengalaman baru. Biasanya dalam ceramah yang pernah saya hadiri, paling hanya melibatkan dua bahasa, bilingual. Tapi kali ini melibatkan tiga bahasa, trilingual. Jadi penceramah, ustadz yang memberikan tausyiah menggunakan bahasa urdu, karena mayoritas jamaah pengguna bahasa urdu. Lalu bahasa urdu oleh saudara Imran (Pakistan) diterjemahkan menjadi bahasa Jepang ke saudara Rizal dan akhirnya saudara Rizal menerjemahkannya ke bahasa Indonesia untuk kami. Jalur yang cukup panjang untuk mendapatkan ilmu.

Jumlah muslim Pakistan, India, dan Bangladesh di kota kami memang cukup besar jumlahnya. Mereka rata-rata melakukan bisnis impor dan ekspor mobil bekas di kota ini. Oleh karenanya mereka rata-rata adalah orang yang lebih dari berkecukupan. Dan mesjid Toyama ini, sebagai satu-satunya mesjid di Kota Toyama, didirikan oleh mereka. Satu hal yang juga menarik adalah kebanyakan mereka menikah dengan orang Jepang. Mesjid Toyama malam itu dipenuhi oleh anak-anak mereka. Anak-anak ini memiliki wajah-wajah yang unik dan tak satupun dari mereka mirip. Jika didominasi gen jepang maka anak itu akan berkulit putih, bermata sipit, tetapi memiliki hidung mancung. Jika didominasi gen pakistan/india maka anak itu akan memiliki kulit agak kehitaman, hidung mancung, tetapi dengan mata agak sipit. Mereka memiliki ketampanan dan kecantikan tersendiri. Dengan melihat mereka, pikiran saya lalu terbayang ke masa-masa awal Islam masuk ke Indonesia. Bukankah pedagang-pedagang dari Gujarat dulu masuk ke Indonesia dengan tujuan awal berdagang, lalu menikah dengan penduduk lokal dan pada akhirnya tersebarlah Islam di Nusantara.

Maka gambaran itu pula saya dapatkan disini. Menikah memang adalah cara yang paling rill dalam melakukan dakwah Islam di negeri-negeri asing. Pak Aminullah pun menyeletuk 20-30 tahun kemudian Jepang ini terancam. Karena heran, sayapun bertanya terancam apa pak ? . Terancam menjadi salah satu negeri muslim. Sayapun mengaminkannya, karena ini bukanlah hal yang utopis. Jumlah mesjid dan islamic center di Jepang terus meningkat dan tiap tahunnya pasti ada penduduk lokal yang memeluk agama Islam.
Bahkan saudara Rizal pun berisitrikan orang Jepang asli dengan lima orang anak (dua mirip orang indonesia, tiga mirip orang Jepang). Selain saudara Rizal, di mesjid Toyama saya juga bertemu satu orang kenkyusei yang bekerja di Toyama, pak Adi, yang juga menyebarkan Islam melalui perkawinan. Beliau sekarang dianugerahi satu orang anak.

Setelah acara ceramah selesai, kemudian diadakan acara makan kari bersama. Acara yang sejak maghrib saya tunggu-tunggu karena kelaparan. Total tiga lembar roti saya habiskan dengan beberapa potong daging kari ayam. Kari pakistan memang lezat, maka pecinta kuliner harus mencobanya. *smile

Sekitar pukul setengah sebelas kamipun diantar kembali ke rumah oleh pak Adi, saudara Rizal, Tri dan Sony menggunakan mobil saudara Rizal yang bagi saya cukup mewah. Maklum saudara Rizal ini juga pengusaha ekspor impor. Beliau sengaja membeli mobil besar untuk kepentingan jamaah kata beliau. Sesampainya dirumah, kami masih berdiskusi hingga larut dan akhirnya mereka pamit kembali ke mesjid.

Hmm, begitulah pengalaman saya’diculik’ oleh Jamaah Tabligh di Jepang. Banyak hal baru yang saya dapatkan. Sembari terus berpikir akankah saya juga akan melakukan jalan ‘dakwah’ itu ? wallau ‘alam. *smile

Toyama, 9/18/2012

Sumber
« Baca Selengkapnya »

Jumat, 22 Agustus 2014

Sakti “Sheila on 7” Dari Chord Gitar ke Chord Allah


Tak terpikir sebelumnya oleh para penggemarkan bahwa Sakti Sheila On 7 akan sedemikian cepat berubah. Jalan hidupnya seperti berputar 180 derajat. Sebuah perputaran hidup yang mengagetkan bagi banyak orang tapi tidak bagi Sakti.

Dengan petikan gitarnya, Sakti turut membawa Sheila on 7 menjadi salah satu grup band besar di tanah air. Kini jari-jarinya tak lagi memetik chord lagu-lagu Sheila, tapi ‘chord’ ayat-ayat Allah SWT dan sunah Rasul-Nya demi masuk ke agama tauhid ini dengan utuh.
Wassalam,

Hati Hidayah sungguh sumringah saat di layar telepon selular muncul nama Sakti. Sedari siang Hidayah yang mencari Sakti di kota Bandung agak panik, karena telepon selular mantan pemetik gitar Sheila on 7 itu tak bisa dihubungi. Sehari sebelumnya ia bilang bahwa tengah berada di daerah Ujung Berung Bandung, tapi setelah didatangi ternyata dia sudah tidak ada.

“Assalamu’alaikum…maaf Mas, sekarang saya udah pindah. Ada di masjid Jami Al-Ukhuwwah kompleks Bumi Panyileukan…,” begitu bunyi sms-nya.

Sakti ternyata tengah mengikuti satu kegiatan dakwah dan tarbiyah sebuah organisasi Islam bernama Jamaah Tabligh selama 40 hari. Kegiatan yang dinamai khuruj itu mengharuskan pesertanya berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu masjid ke masjid lain, guna berdakwah dan melatih diri dalam beribadah secara ihklas kepada Allah SWT. Sehari sebelumnya Sakti memang berada di Ujung Berung namun pada hari itu ia sudah berpindah ke Panyileukan yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Mengenakan gamis putih bergaris-garis, berkopiah dan bercelana hitam, ia tampak tengah berwudhu bersama para jamaah yang lain. Dari kejauhan, Sakti terlihat lebih kurus, namun wajahnya tampak bersih. Jenggot hitam lebat yang memenuhi dagu dan sebagian pipinya tak mampu menyembunyikan wajah mudanya yang tampan.

Selepas sholat Ashar , Sakti tampak bersalaman dengan imam sholat, ia lalu beranjak ke pojok masjid mengambil buku Fadhilah Amal. Sesaat kemudian, pria bernama lengkap Sakti Ari Seno itu duduk menghadap jamaah dan mulai membacakan beberapa hadist dari buku itu. Jamaah lain mendengarkan dengan seksama. Suara Sakti terdengar lancar sekalipun volumenya terdengar perlahan.

Bila mengingat Sakti pernah merajai panggung musik tanah air bersama Sheila on 7, pemandangan itu menghadirkan perasaan yang lain. Mengawali karier musik lewat album Sheila on 7 ( 1999 ), yang dilanjutkan dua album lainnya yang meledak di pasaran, Kisah Klasik Untuk Masa Depan ( 2000 ) dan Anugerah Terindah yang pernah Kumiliki ( 2000 ), Sakti bersama empat orang karibnya, Erros, Duta, Adam dan anton, adalah ikon penting musik tanah air waktu itu.

Di setiap sudut negeri, lagiu-lagu Sheila seperti Sephia, Jadikanlah Aku Pacarmu, Dan, Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki, dan masih banyak yang lainnya diperdengarkan dan dinyanyikan siapa saja. Kini pemandangan Sakti yang seperti itu tentulah menghadirkan sebuah kontras karena orang tahunya ia adalah pemetik gitar kalem. perannya menjadi warna sendiri di panggung mendampingi permainan gitar Erros yang atraktif di setiap show Sheila.

“Saat ini saya tetaplah seniman, dan sesekali masih memegang gitar,” ujar Sakti yang jari-jarinya refleks memperagakan chord-chord gitar di dekat perut seperti memainkan gitar betulan. namun Sakti mengaku memang mengurangi kegiatan-kegiatan bermusik dan memperbanyak kegiatan agama karena ia merasa harus lebih banyak belajar.

Menurut Sakti, setiap profesi adalah sah saja hukumnya asal setiap orang mengetahui apa kebutuhan Allah baginya. ” Artinya berprofesi sebagai seniman, dosen, dokter atau apa saja, selama kita mengetahui apa kebutuhan Allah bagi kita, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia di dunia dan akherat. Seperti almarhum Gito Rollies , beliau seniman tapi juga berusaha mengerti apa kebutuhan Allah abeg dirinya, ” ujar Sakti lagi.

Maut dan Pakistan

Sakti memetik cahaya hidayah di kotaa Adisucipto, Yogyakarta, lima tahun lalu. Saat itu ia bersama Erros akan terbang ke Malaysia untuk menerima penghargaan musik di negeri jiran itu. Saat menunggu pesawat, ia masuk ke sebuah toko buku. Matanya tertumbuk pada sebuah buku berjudul “Menjemput Sakaratul Maut Bersama Rasulullah”.

“Saat itu sedang musim kecelakaan pesawat. Hati jadi tidak menentu, kepikiran bagaimana kalau pesawat yang saya tumpangi jatuh dan saya mati, bagaimana nanti jadinya,” ujarnya mengenang.

Buku itu lalu ia beli dan ia bawa kembali saat pulang. Di rumah, perasaannya semakin trenyuh karena mendapati ibunya sedang sakit lantaran sebelah paru-parunya mengecil. Pikirannya makin lekat pada kematian setelah seorang bibinya yang datang menjenguk membawakan sebuah majalah keagamaan yang juga bicara kematian.

Rentetan peristiwa itu memmembuat Sakti merasa diingatkan Allah tentang kematian, hal yang dulu sama sekali tak pernah ia pikirkan.

“Kita semua akan mati. Masalah waktunya, kita tak pernah tahu,” ujarnya pelan.
Ia seperti tersadar bahwa amal di dunia sangat menentukan kebahagiaan di akherat. Pikirannya semakin fokus pada kematian setelah dalam pengajian-pengajian yang ia ikuti ia memperoleh penngetahuan betapa dahsyatnya kepedihan akherat, dan sebaliknya betapa indahnya kebahagiaan disana.

“ Bila semua kesengsaraan di dunia ini dikumpulkan apa itu sakit parah, kecelakaan, tangan putus, tsunami dan sebagainya tidak ada artinya jika dibandingkan kesengsaraan di akherat yang paling ringan sekalipun, bagai setitik air di lautan. begitupun sebaliknya, jika semua kebahagiaan di dunia di kumpulkan tak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang ada di surga Allah,” ujarnya serius.

Hal itu menjadi motor dalam dirinya untuk terus belajar agama. Ia juga mulai tahu bahwa amal itu tak hanya untuk diri, tapi juga untuk orang lain. Karenanya, ia ingin seutuh mungkin masuk ke dalam agama Allah yang rahmat ini, hingga seluruh bagian dirinya termasuk di dalamnya. Sakti mengibaratkan itu seperti masuk kedalam mobil.

“Kan tidak mungkin tubuh kita sudah masuk mobil tapi kaki kita tertinggal.” ujar ayah Asyiah Az-Zahra ( 1 tahun ) dan suami Miftahul Jannah ( 23 tahun ) ini menegaskan.

Dengan segala kekuatan hati itu, bisa dimengerti mengapa Sakti sampai mau melepaskan posisinya sebagai anggota Sheila on 7, posisi yang diimpikan jutaan anak muda di Indonesia. Menjadi bisa dimengerti pula mengapa Sakti sampai mau berkeliling dari masjid ke masjid untuk berdakwah.

Keutuhan Islam itu yang kini ia kejar dengan segiat mungkin belajar dan beribadah. Ia sempat belajar di beberapa pengajian dari berbagai aliran Islam yang ada. Tapi hatinya kemudian merasa cocok dengan Jamaah Tabligh/ kepergiannya ke Pakistan tahun 2006 lalu untuk belajar yang banyak diberitakan media sebagai alasan ia keluar dari Sheila, ternyata tak lain untuk mengejar keutuhan itu.

“Saya ke India, Pakistan dan Baghdad, disana saya melihat bagaimana agama dijalankan dengan sebenar-benarnya. Dari situ saya tahu ada hak tetangga dalam diri kita, ada ajaran kasih sayang pada sesama.” ujarnya sambil menceritakan bagaimana ia bertemu dengan muslim dari segala bangsa disana.

Sakti sempat ditanya seorang ustadz saat di Pakistan. bagaimana perasaannya jika melihat orang dekat,keluarga, dan lain sebagainya jauh dari agama Allah? bagimana rasa kasih sayang itu harus diwujudkan dalam konteks ini? bagimana rahmat bagi seluruh alam yang menjadi merk agama ini dapat kamu perankan. Bagaimana perasaan cinta Nabi kepada Allah yang ditransfer kepada umatnya dapat pula ditransfer kepada orang di sekeliling kita? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kesan tersendiri di hatinya untuk semakin kukuh di jalan ibadah dan dakwah.

Jalan Menuju Kekasih Allah

Hubungan karib dengan teman dan para penggemar memmembuat dua pihak inilah yang paling dulu mengerti dengan jalan hidup yang ditempuh Sakti sekarang. Sementara pihak keluarga sebelumnya agak sulit mengerti, tapi kemudian bisa memaklumi. Dari penggemarnya, Sakti bahkan menerima buku-buku agama yang dikirim khusus untuknya.

Sampai saat ini, Sakti mengaku masih sering bersilaturahmi dengan teman-temannya di Sheila. Di milis Sheila gank milik para penggemar Sheila, nama Sakti juga masih sering disebut. Sekalipun frekuensi pertemuan sudah mulai berkurang, Sakti mengaku masih saling berpaut hati dengan teman-temannya yang sama sama merintis karier dari Yogyakarta itu.

“Dalam doa, saya selalu menyebut teman-teman agar mereka bisa di dekatkan dengan Allah,” ujarnya.
beberapa kali Sakti tercatat menjadi bintang tamu konser Sheila. Dua diantaranya saat konser di sebuah sbegiun swasta dan konser 1000 Gitar yang diadakan di Yogyakarta tahun lalu. Acara yang melibatkan beberapa gitaris ternama tanah air itu antara lain Ian Antono ( God Bless ) , Eet Sjahranie ( Edane ) dan Teguh ( Coconut Treez ) itu, turut dimeriahkan Sakti yang menjadi tamu misterius berduet dengan Erros membawakan lagu Little Wings milik Jimi Hendrix. Sakti tampil dengan menggunakan baju muslim yang sudah jadi pakaiannya sehari-hari.

Dengan seorang temannya, Sakti kini tengah menggarap sebuah album religi yang ia harapkan dapat dirilis Ramadhan tahun ini. Misinya mengeluarkan album kali ini dengan mantap, ia sebut sebagai wujud ibadahnya kepada Sang Rabb.

“Materi sedang disiapkan yang isinya tentang pengalaman dan penyampaian saya tentang keberislaman,” ujarnya seraya berharap album itu bisa jadi asbab hidayah bagi yang mendengarkan.

Lalu seberapa bahagia Sakti sekarang ? Ia hanya tersenyum seraya mengucap tahmid. Menurutnya, mengutip perkataan seorang ulama yang pernah didengarnya, semakin kita mengenal makhluk semakin kita mengenal allah semakin kita tahu kesempurnaan-Nya dan siapa saja yang semakin tahu kesempurnaan Allah ia akan tenang dan bahagia.

“Dulu saya tak tahu dimana harus bersandar bila ada masalah, saya juga tak tahu apa sebenarnya tujuan hidup ini. Tapi setelah diberi kesempatan semakin mengenal Allah, kita sadar bahwa Dia Maha pengasih, Maha Penyayang semua makhluk, Maha penjawab setiap doa, kita jadi tahu bahwa Dialah tempat bersandar yang paling tepat”, ujarnya pasti.

Dalam hidup, menurutnya manusia mengejar rasa. Ketika seseorang ingin punya mobil, kemudian mendapatkannya, ia pun ingin merasakan merk mobil yang lain. Begitu pula dalam hal-hal lain. Tapi jika rasa itu diarahkan sepenuhnya kepada Allah SWT, maka ketenangan dan kejernihanlah yang diraihnya.

“Itu kata teman saya, ibarat antena bagi televisi. Bila kita benar mengarahkan antena ke satelit, maka siaran akan jernih dan sebaliknya. Jika arahnya tak benar maka gambar akan buram. Seperti itu juga kita, apapun kegiatan kita, jika itu sepenuhnya mengarah kepada Allah maka hati kita akan jernih, dan jika sudah berpaling maka hati akan menjadi kotor,” ujarnya lagi.

Bagi Sakti, ketenangan itu adalah fitrah yang dicari semua orang di dunia. Tak ada jalan lain meraih itu selain mendekatkan diri kepada Allah, karena Dialah sumber kebahagiaan. Dan pendekatan itu harus dibuktikan dengan amal, harus dicicipi oleh pribadi-pribadi yang memang menginginkan itu.

Untuk menghidupi keluarganya, Sakti membuka sebuah minimarket dan jasa Laundry. baginya itu sudah cukup, sekalipun jika dibandingkan dengan uang yang ia peroleh semasa menjadi artis tentulah tak seberapa. Jalan hidupnya saat ini adalah sebuah ketentuan-Nya yang ingin selalu istiqomah ia jalani.

“Selalu akan ada ujian dan friksi, tapi bagi saya itu adalah jalan agar saya selali istiqomah. Ini barangkali sudah takdir. Jika dulu saya sering pegang gitar sekarang jadi sering pegang tasbih,” ujarnya sambil tersenyum.

Tak ada harapan di hatinya selain bisa terus lebih dekat dengan-Nya dan semakin tahu apa yang Allah kebutuhani abeg hidupnya. Harapan yang juga pernah dipesankan oleh seorang penggemar kepadanya, ” Semoga Mas Sakti jadi kekasih Allah….”, Amin ya Robbal Alamien.
« Baca Selengkapnya »