Tampilkan postingan dengan label Targhib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Targhib. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 September 2014

Nilai Suatu Perintah

Nilai suatu perintah tergantung kepada siapa yang memberi perintah. Perintah satu orang kepala seksi dibanding perintah manager tentu lebih tinggi nilainya perintah manager. Perintah satu orang Kapolda dibanding perintah Kapolri tentu lebih tinggi nilainya perintah Kapolri. Perintah satu orang Gubernur dibanding perintah Presiden tentu lebih tinggi nilainya perintah Presiden.
Satu orang tentara di telepon selulernya ada panggilan. Ketika dilihat, telepon dari Komandan. Apa pun perintah komandan akan dilaksanakan. Siap, siap, siap. Bukan perintahnya yang di lihat tapi yang dilihat siapa yang beri perintah. 
Satu orang PNS dapat panggilan dari Bupati. Tanpa berpikir panjang langsung menjumpai pak Bupati karena dia tahu betul panggilan ini sangat penting sekali. Dalam keadaan kurang sehat pun akan berusaha untuk memenuhi perintah ini. Karena PNS ini faham betul siapa yang memberi perintah. 
Komandan yang paling tinggi “ALLAH”
Presiden yang paling tinggi “ALLAH”
Manager yang paling tinggi “ALLAH”
Raja yang paling tinggi “ALLAH” 
Bos yang paling tinggi “ALLAH”
Hari ini kita tidak kenal dengan ALLAH sehingga perintah ALLAH dianggap kecil. ALLAH begitu kecil dihati-hati manusia yang besar itu Komandan, Bos, Presiden dsb. Perintah manusia lebih kita taati dibanding perintah ALLAH. 
Ditengah kesibukan kita ALLAH SWT perintahkan shalat. Malah kita menganggap perintah shalat itu tidak penting yang lebih penting perintah atasan. 
Hayya Alas Shalah, Hayya Alas Shalah. Nantilah dulu, kan masih ada waktu. 
Satu orang tukang becak dipanggil penumpang : “Bang, saya mau ke Jln. SM Raja, abang saya beri 100ribu yang penting abang antar saya sekarang”. Abang becak pun mengatakan : “ ALLAH SWT telah perintahkan saya untuk shalat saat ini, Hayya Alas Shalah, Hayya Alas Shalah, walau pun 1 milyar saya diberikan uang, saya tetap tidak akan mau. Karena nilai satu shalat berjamaah lebih bernilai dari pada dunia beserta isinya. Uang yang 1 milyar itu belum ada nilai apa-apanya dibanding shalat berjamaah. 
Tukang becak yang lain pun diajak. Saya mau ke Jln. SM Raja? Berapa ongkosnya? “10 ribu” kata abang becak. Bapak itu berkata : “Kok, mahal sekali, 5 ribu saja”. “Ok lah”, kata abang becak. Perintah ALLAH pun datang Hayya Alas Shalah, Hayya Alas Shalah. Nantilah dulu, demi uang 5 ribu rupiah di telah sia-siakan perintah ALLAH SWT. 
Berapa banyak hari ini manusia demi untuk mengumpulkan lembaran-lembaran uang telah tinggalkan perintah ALLAH SWT. Padahal, uang 1 koper yang kita kumpulkan tidak akan pernah dibawa kealam kubur. Uang yang 1 koper tidak akan pernah laku diakhirat. Yang dibawa itu hanya iman dan amal. Yang laku diakhirat hanya iman dan amal saja. 
Kerajaan Nabi Sulaiman as tidak akan pernah ada yang menandingi sebelum dan sesudah Nabi Sulaiman. Seluruh penjuru dunia dari timur sampai kebarat dalam kekuasaan nabi Sulaiman as. Bukan hanya manusia yang ada dalam kendalinya. Jin pun dalan kekuasaannya. Faham dengan bahasa hewan dan tumbuhan. Angin, air, api semua dalam kekuasaan Nabi Sulaiman. 
Suatu ketika angin diperintahkan untuk menerbangkan nabi Sulaiman beserta kerajaannya. Satu orang petani telah melihat kejadian ini. Sangkin takjubnya ia mengatakan : “SUBAHANALLAH”. Mendengar hal itu nabi Sulaiman pun turun dan mengatakan : “Bapak, apa yang barusan engkau sebutkan?”. Petani pun menjawab : “SUBAHANALLAH”. Tahukan engkau nilai “SUBAHANALLAH” itu lebih bernilai dari pada seluruh kerajaan Sulaiman as. Kerajaan Sulaiman as akan musnah tapi ucapan “SUBAHANALLAH” akan tetap kekal di sisi Allah SWT. 
Satu ucapan “SUBAHANALLAH” saja lebih bernilai dari pada dunia beserta isinya. Makanya pahalanya tidak dibalas didunia. Andaikan pahala “SUBAHANALLAH” ini dijatuhkan ke dunia maka akan pecahlah dunia karena tidak sanggup untuk menampungnya. Inilah nilai satu perintah ALLAH SWT bagai mana lagi dengan amalan yang lain. Bagai mana pula dengan pahala shalat berjamaah. Jauh lebih tinggi. Makanya abang becak itu faham betul dan menolok uang 1 milyar demi satu perintah ALLAH SWT. 
Satu orang raja telah suruh rakyatnya. Masuk kedalam gua yang gelap gulita. Sudah gelap, gulita lagi. Tidak bisa melihat apa isi didalam gua. Sekarang semuanya masuk jangan terlalu banyak tanya. Apa pun yang ada di dalam gua silahkan diambil saja. Tapi perlu saya beri tahu, siapa yang tidak mengambil rugi, yang abil juga rugi, yang ambil sedikit rugi dan yang ambil banyak pun rugi. Setelah sampai diujung gua. Mereka melihat apa yang mereka ambil. Rupayanya emas, intan dan permata. Yang ambil banyak kurang banyak. Yang ambil sedikit pun kurang banyak. Apa lagi yang tidak ambil sama sekali. 
Dunia ini pun gelap gulita sehingga manusia tidak bisa melihat perintah ALLAH SWT. Emas, intan dan permata telah ALLAH SWT sebarkan dipermukaan bumi ini. Berupa shalat, zikir, sedekah dsb. Bukankah shalat itu lebih berharga dari pada emas, intan dan permata. Tapi karena kita di dalam dunia yang gelap gulita tidak bisa melihat perintah-perintah ALLAH SWT. Walau pun dunia ini gelap gulita tapi sekarang kita sudah tahu nilainya amalan agama. Makanya apa pun yang terjadi kita tetap perbanyak amalan. 
Hari ini manusia dalam keadaan sakit. Kalau sakit makanan apa pun tidak akan enak. Kalau ruhaniah kita sakit amalan apa pun tidak akan enak. Shalat tidak enak, zikir tidak enak, baca Al Qur’an tidak enak. Ketika sakit, kita tahu betul makan rendang itu enak, tapi rendang yang enak pun kita muntahkan. Berapa banyak perintah ALLAH yang kita muntahkan karena merasa jijik melihatnya. Pada hal kita tahu betul fhadilah shalat berjamaah tapi shalat berjamaah selalu kita muntahkan. Karena ruhaniah kita sakit. 
Kalau sakit parah tentu tidak bisa berobat jalan. Harus di opname selama 3 hari. Dalam keadaan sibuk kerja, dalam keadaan waktu tidak ada. Tapi, kalau sudah namanya sakit, sesibuk apa pun kita. Pasti akan meluangkan waktu untuk berobat kerumah sakit. Ruhaniah manusia pun hari ini sakit karena shalat pun sudah tidak enak bahkan memuntahkannya. Perlu juga di opname selama 3 hari di mesjid. Yang lebih susah lagi sudah tahu sakit tapi tidak mau berobat ini paling-paling mati. Tapi kalau ruhaniah sakit dan tidak mau berobat ini paling-paling neraka. Neraka kok paling-paling. Ini keliru namanya justru masuk Neraka ini yang harus paling dipikirkan dan dihindari, karena ini sakit yang menyebabkan penderitaan yang selama-lamanya. 
Inilah pentingnya kita keluar 3 hari untuk mengobati ruhaniah manusia yang sakit. Selama 3 hari kita akan diberi obat hati sesuai dengan dosis dan penyakit hati kita. 
Apa obat sakit ruhaniahnya yang diberi selama 3 hari dan berapa dosisnya? Ini rahasia, kalau sudah dikasih tahu bukan rahasia lagi namanya. 
Tapi demi kesembuhan anda kami akan buka juga rahasianya hanya disini. Bagi anda yang ingin ruhaniahnya sembuh. 
OBAT DAN DOSISNYA PENYAKIT HATI    
  
4 jam untuk dakwah
4 jam untuk taklim
4 jam untuk zikir ibadah
4 jam untuk khitmat
Obat inilah yang akan diberikan kepada anda secara gratis selama 3 hari. Setelah selama 3 hari berobat iman, Insya Allah ketika perintah Allah dan perintah atasan secara bersamaan ada didepan kita. Perintah ALLAH akan kita dahulukan. 
Shalat akan terasa enak. Kalau tidak shalat berjamaah di mesjid rasanya menyesal sekali seperti menyesalnya tidak datang makan di restoran yang paling enak. Rasa nikmat shalat sudah terasa enak, zikir terasa enak, baca Al Qur’an terasa enak. Amalan yang lain pun akan terasa enak karena ruhaniah sudah sehat. Sebagai mana kalau kita sehat semua makanan akan terasa enak.
Insya Allah 3 hari
Walau pun kita seorang dokter tapi ketika sakit tidak mau berobat. Sampai kapan pun tidak akan sembuh. Walau pun ilmu kita tinggi masalah agama ketika sakit ruhaniah tidak mau berobat. Sampai kapan pun tidak akan pernah sembuh. IMPOSSIBLE   
Insya Allah 3 hari 
Insya Allah
« Baca Selengkapnya »

Senin, 08 September 2014

Beberapa Penyebab Kelalaian Kita

Terdapat beberapa penyebab kelalaian kita terhadap kewajiban yang sangat penting ini, yaitu :
Pertama: Kita sering menganggap bahwa kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar hanyalah tanggung jawab alim ulama. Padahal, yang dituju oleh Allah di dalam Al-Quran adalah secara umum mutlak kepada setiap umat Muhammad saw.. Dan kehidupan para sahabat r.a. dalam masa Khairul-Qurun (generasi terbaik) adalah bukti yang adil atas kewajiban tersebut. Hanya mengkhususkan tanggung jawab dakwah dan amar ma'ruf nahi mungkar ke atas alim ulama, lalu meninggalkannya dan hanya mengharap dan mengandalkan mereka saja dalam tugas ini merupakan kebodohan yang sangat parah. Tugas ulama adalah menyampaikan yang hak dan menunjukkan jalan yang lurus. Sedangkan menggerakkan hamba-hamba Allah agar mengamalkan dan berjalan sesuai petunjuk merupakan tugas bagi orang-orang selain mereka. Ini sesuai dengan hadits:
"Sesungguhnya kalian ialah pemimpin, dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Raja ialah pemimpin rakyatnya dan akan ditanya tentang orang-orang yang dipimpinnya. Laki-laki adalah pemimpin ahli rumahnya. Ia akan ditanya tentang keluarga yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin di rumah suami dan anak-anaknya. Ia akan ditanya tentang rumah tangganya. Dan hamba sahaya adalah pemimpin atas harta majikannya. Ia akan ditanya tentang tanggung jawabnya. Singkatnya, kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya atas kepemimpinannya." (Bukhari, Muslim).
Dan dengan gamblang telah dijelaskan melalui hadits berikut ini:
Rasulullah saw. bersabda, "Agama adalah nasihat." Kami (para sahabat) bertanya, "Bagi siapa?" Beliau bersabda, "Bagi Allah, bagi Rasulullah, dan bagi pemimpin-pemimpin umat Islam dan orang awamnya." (Muslim).
Walaupun seandainya dapat diterima bahwa kerja ini memang tugas ulama, dalam keadaan darurat dan situasi yang sangat kritis ini setiap orang dituntut untuk terjun dalam kerja ini dan bersedia meninggikan kalimat Allah serta menjaga agama yang kokoh ini.
Kedua: Kita sering merasa bahwa kita sudah memiliki iman yang kuat, sehingga kita tidak perlu beramar ma'ruf nahi mungkar karena kesesatan orang lain tidak akan merugikan kita, sebagaimana kita memahami ayat:
"Hai orang-orang beriman, pikirkanlah diri kalian, tidak dapat mencelakakan kalian orang yang tersesat jika kalian berada di atas petunjuk." (Q.s. Al-Maidah : 105).
Sebenarnya, yang dimaksud dari ayat ini bukanlah seperti memahami zhahirnya, sebab hal itu jelas bertentangan dengan hikmah Ilahi dan syariat. Syariat Islam telah menerangkan bahwa kehidupan ijtima'i (kebersamaan), ishlah bersama dan kemajuan bersama adalah sesuatu yang pokok. Dan telah ditetapkan bahwa umat Islam itu seperti satu jasad. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan merasa sakit juga. Namun maksud ayat di atas bukanlah demikian. Maksud sebenarnya adalah, meskipun Nabi saw. adalah seorang manusia yang telah mencapai kemajuan dan kesempurnaan, keberadaan orang-orang yang turut meluruskan orang-orang yang telah meninggalkan jalan yang lurus ini tetaplah penting. Ayat ini adalah penghibur bagi orang-orang beriman bahwa mereka yang berdiri tegak dalam jalan hidayah dan jalan yang lurus, mereka tidak akan terkena bahaya dari orang-orang yang telah meninggalkan jalan hidayah tersebut.
Di samping itu, hidayah yang sebenarnya adalah penerimaan manusia terhadap seluruh hukum Islam, salah satunya adalah perintah beramar ma'ruf nahi mungkar. Adapun yang menguatkan pendapat ini antara lain adalah perkataan Abu Bakar r.a.:
"Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat berikut ini, 'Hai orang-orang beriman, waspadalah atas diri kalian. Tidak dapat mencelakakan kalian orang yang tersesat jika kalian berada di atas petunjuk. Maka sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Sesungguhnya manusia apabila melihat kemungkaran, lalu mereka tidak berusaha mengubahnya, maka hampir saja Allah menurunkan adzab secara menyeluruh ke atas mereka.'"
Para ulama muhaqqiqin pun menyetujui makna tersebut. Imam Nawawi rah.a. dalam Syarah Muslim mengutip pendapat para ulama muhaqqiqin mengenai makna ayat di atas, "Apabila kalian telah menunaikan apa yang diperintahkan kepadamu, maka kejahatan orang-orang yang menentangmu tidak akan membahayakanmu," sebagaimana firman Allah:
"Dan tidak akan menanggung seseorang yang berdosa terhadap dosa orang lain." (Q.s. Al-Fathir : 15).
Di antara seluruh perintah tersebut, salah satunya ialah amar ma'ruf nahi mungkar. Apabila seseorang telah menyempurnakan tugas ini, maka ia tidak akan menanggung celaan dan dosa-dosa dari mereka yang tidak menerima ajakannya, sebab ia telah menunaikan kewajibannya. Dan bukan menjadi tanggung jawabnya jika orang lain tidak menerimanya. Wallaahu A'lam.
Ketiga: Masyarakat awam, cendekiawan, alim ulama, maupun orang-orang jahil, semuanya telah berputus asa terhadap usaha ishlah (perbaikan) ini. Dan mereka meyakini bahwa sekarang ini sangat tidak mungkin bagi kaum muslimin untuk dapat mencapai kejayaan. Mereka berpendapat, "Bagaimana Islam dapat maju jika tanpa kekuasaan, tanpa politik, tanpa pemerintahan, tanpa ekonomi, tanpa senjata, tanpa organisasi, tanpa kerja sama dan kesatuan?"
Terutama dari kalangan ahli agama sendiri, mereka berpendapat bahwa sekarang, empat belas abad telah berlalu dan jauh dari masa kenabian, sehingga wajar jika Islam dan kaum muslimin mengalami kemerosotan. Jadi, berusaha keras untuk melakukan perbaikan merupakan perbuatan yang sia-sia dan tidak berguna. Memang benar bahwa kita telah jauh dari cahaya Nubuwah dan Islam sudah mulai terpecah-pecah, tetapi bukan berarti tidak penting bagi kita untuk berusaha dan bersungguh-sungguh menjaga agama dan menghidupkan syariat yang telah dibawa oleh Muhammad saw. ini. Seandainya orang-orang terdahulu berpikiran demikian, tentu Islam tidak akan sampai kepada kita hingga hari ini. Sebaliknya, jika hal ini sudah dianggap tidak sesuai lagi dengan zaman, justru kita hendaknya berusaha lebih memperhatikan bagaimana agar usaha agama ini dapat dihidupkan kembali, yaitu dengan usaha dakwah ini.
Suatu hal yang sangat mengherankan adalah, agama yang seharusnya diamalkan dan diusahakan dengan sungguh-sungguhan, sekarang justru ditinggalkan sama sekali oleh penganutnya. Padahal, hampir seluruh ayat Al-Quran dan hadits telah memberi pelajaran agar kaum muslimin berjuang sungguh-sungguh untuk menegakkan agama ini, dan orang yang selalu menghabiskan malamnya dengan ibadah dan siang harinya dengan berpuasa, juga selalu menjaga dzikirullah, tetap tidak akan dapat menyamai derajat orang-orang yang tidak pernah tenang karena memikirkan kebaikan bagi orang lain dan merisaukan agar orang lain mendapat hidayah.
Di dalam Al-Quran banyak sekali ayat yang menekankan tentang perintah berjuang di jalan Allah, tentang keutamaan mujahid, juga tentang keistimewaannya jika dibandingkan dengan amal lainnya, sebagaimana disebutkan dalam ayat:
"Tidaklah sama orang-orang mukmin yang tinggal di rumah tanpa ada udzur dengan orang-orang mukmin yang berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengangkat orang-orang yang berjuang (di jalan-Nya) dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang tinggal di rumah mereka satu derajat. Allah telah menjanjikan (kepada mereka) semua dengan pahala yang baik. Dan Allah memberi kelebihan kepada orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dibandingkan mereka yang tinggal di rumah dengan pahala yang sangat besar. Yaitu beberapa derajat dari sisi-Nya, diberi ampunan dan rahmat. Dan Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.s. An-Nisa: 95 - 96).
Meskipun yang dimaksud dengan jihad dalam ayat di bawah ini adalah memerangi orang kafir agar umat Islam menjadi yang paling unggul, dan kekufuran serta kemusyrikan dapat dihancurkan, bila hari ini karena nasib buruk kita terhalang dari nikmat yang besar ini, jangan sampai kita melalaikan usaha untuk mencapai maksud tersebut sesuai dengan kemampuan kita. Kemudian sedikit demi sedikit kita meningkatkan usaha dan perjuangan kita.
"Barangsiapa bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (Q.s. Al-Ankabut: 69).
Tidak disangkal lagi bahwa Allah berjanji akan menjaga agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., tetapi untuk mencapai kemenangan dan kemajuan tersebut, dituntut pengorbanan dan usaha kita. Para sahabat r.a. telah berusaha keras untuk mencapai tujuan tersebut, maka seperti itulah hasil yang mereka saksikan. Mereka juga telah memperoleh pertolongan ghaibiyah dari Allah sehingga kita menyebut-nyebut keharuman nama mereka. Seandainya kita sekarang mengikuti jejak mereka dan berjuang menegakkan kalimatullah dan bersungguh-sungguh menyebarkan Islam, kita pun akan mendapatkan pertolongan Allah dan bantuan ghaibiyah-Nya.
"Jika kalian membantu agama Allah, pasti Allah akan membantu kalian. Dan Allah akan menegakkan kaki-kaki kalian (di depan musuh kalian)." (Q.s. Muhammad: 7).
Keempat : Kita sering berpendapat bahwa jika kita tidak konsekuen dengan ajakan kita dan kita merasa bukan ahlinya, maka tidak selayaknya kita menasihati orang lain. Ini adalah tipuan yang sangat nyata. Jika kita menunaikan suatu tugas dan tugas itu adalah perintah Allah, maka kita tidak boleh mundur sedikit pun. Kita hendaknya memulai kerja ini dengan kepahaman bahwa ini adalah perintah Allah. Insya Allah, usaha dan kesungguhan yang kita lakukan akan membawa kemajuan, kekuatan, dan istiqamah. Hendaknya kita kerjakan terus-menerus sehingga kita akan mendapat kedekatan dengan Allah swt.. Dan sesuatu yang mustahil jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan perintah Allah, lalu Allah tidak memandang kita dengan pandangan rahmat-Nya. Ungkapan saya tersebut dikuatkan dengan hadits berikut ini:
Dari Anas r.a., ia berkata, kami bertanya, "Ya Rasulullah, kami tidak akan menyuruh orang untuk berbuat baik sebelum kami sendiri mengamalkan semua kebaikan dan kami tidak akan mencegah kemungkaran sebelum kami meninggalkan semua kemungkaran." Maka Nabi saw. bersabda, "Tidak, bahkan serulah kepada kebaikan meskipun kalian belum mengamalkan semuanya, dan cegahlah dari kemungkaran, meskipun kalian belum meninggalkan semuanya." (Thabrani).
Kelima: Kita sering memahami bahwa dengan berdirinya banyak pondok pesantren, adanya alim ulama dengan nasihatnya, para sufi dengan ahli-ahli suluknya, juga adanya penulisan kitab-kitab agama, itu semua dianggap sebagai cabang-cabang amar ma'ruf nahi mungkar sehingga kita merasa bahwa kewajiban dakwah sudah dilaksanakan. Memang kita tidak meragukan kebenarannya. Memelihara hal-hal tersebut (pondok-pondok pesantren, ahli-ahli tasawuf, penulisan buku-buku agama, dan sebagainya) memang sangat penting. Dengan adanya usaha-usaha tersebut, setidaknya cahaya Islam mengalami sedikit perkembangan dan menghasilkan pengaruh keberkahannya. Namun jika kita merenungkan dan memperhatikan keadaan kita pada saat ini, hal-hal tersebut masih kurang mencukupi. Dan merupakan kesalahan yang sangat besar jika kita hanya menyandarkan segalanya pada usaha ini. Karena, kita akan mendapat manfaat dari pondok pesantren atau usaha-usaha di atas jika kita memiliki semangat dan gairah agama yang tinggi dan rasa ta'zhim (memuliakan) serta penghormatan kepada agama yang tinggi pula. Memang, pada masa lima puluh tahun yang lalu, semangat dan gairah agama dalam hati umat ini masih ada, dan cahaya keimanan pun masih tampak, sehingga adanya usaha-usaha tersebut terasa cukup bagi kita dan dengan semangat tersebut, kita dapat menciptakan suasana. Namun pada zaman ini, orang-orang di luar agama telah memusnahkan semangat agama kita dengan usaha-usaha mereka. Dan semangat serta gairah agama pun tampaknya berganti dengan rasa benci dan ingin membebaskan diri darinya. Dalam keadaan seperti ini, penting sekali bagi kita untuk memulai suatu gerakan yang dapat menumbuhkan semangat dan gairah agama di kalangan orang-orang awam dan membangkitkan semangat mereka yang telah lama tidur. Barulah setelah itu kita dapat mengambil manfaat dari badan-badan tersebut yang sesuai dengan bidang masing-masing. Jika tidak, tentu agama akan dipelajari tanpa gairah dan tanpa perhatian sehingga jangankan mengambil manfaat, menjaga kelestarian usaha-usaha itu pun merupakan sesuatu yang sangat sulit.
Keenam : Jika kita membawa usaha dakwah ini kepada orang lain, maka mereka akan membalasnya dengan keburukan, kekasaran, bahkan menghina dan merendahkan kita. Walaupun demikian, hendaknya kita menyadari bahwa kerja dakwah ini adalah kerja mewakili para Nabi, dan mendapat penderitaan serta kesusahan termasuk bagian dalam kerja ini. Para Nabi bahkan mengalami penderitaan dan kesusahan yang lebih berat, namun mereka menghadapinya dengan penuh ketabahan, sebagaimana firman-Nya:
"Sesungguhnya Kami telah mengirim (nabi-nabi) sebelummu dari golongan orang-orang terdahulu dan tiada seorang Rasul pun yang kami utus kecuali mereka akan mengolok-olokkannya."
Rasulullah saw. bersabda, "Aku telah mengalami berbagai penderitaan di jalan Allah dengan penderitaan yang tidak pernah dialami oleh Nabi-nabi selainku." Ringkasnya, jika Nabi saw. sebagai pemimpin kita di dunia dan akhirat telah bersabar dalam menghadapi musibah dan penderitaan, maka kita sebagi pengikutnya dan penerus kerjanya, hendaknya tidak cemas dalam menghadapi musibah-musibah yang menimpa kita. Kita mesti tabah dalam menghadapinya.
Dari keterangan di atas dapat kita pahami bahwa penyakit kita yang sebenarnya adalah penyakit ruhani, karena ruh Islam dan hakikat iman pada diri kita sudah melemah, semangat Islam yang kita miliki telah punah, dan kekuatan iman pun telah hilang. Jika yang asas telah melemah, maka semua kebaikan dan kebenaran tentu akan berkurang. Segala kelemahan dan kekurangan tersebut bersumber dari ditinggalkannya sesuatu yang paling pokok yang menjadi tumpuan kelangsungan seluruh bagian agama, yaitu ditegakkannya amar ma'ruf nahi mungkar. Kenyataan menunjukkan bahwa suatu kaum tidak akan sukses jika setiap anggota dari kaum tersebut tidak berjalan dalam kebaikan dan kesempurnaan agamanya.
Adapun cara perbaikan kita hanyalah dengan menegakkan kewajiban dakwah dan tabligh yang akan menguatkan iman kita dan membangkitkan semangat Islam pada diri kita. Kita menyeru manusia kepada Allah dan Rasul-Nya dengan mengedepankan segala perintah-Nya. Oleh sebab itu, jalan yang kita tempuh adalah sebagaimana yang telah ditempuh oleh Rasulullah saw. ketika memperbaiki orang-orang musyrik Makkah.
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (Q.s. Al-Ahzab : 21).
Karena itu pulalah Imam Malik rah.a. berkata, "Tidak akan menjadi baik umat pada kurun (abad) terakhir ini kecuali (dengan cara) sebagaimana perbaikan pada kurun umat terdahulu."
Ketika Nabi saw. mulai berdakwah, beliau memulainya seorang diri tanpa sahabat dan kawan, tanpa kekuatan dunia sedikit pun. Bahkan hati kaumnya sendiri telah menentangnya dengan keras. Tidak ada seorang pun yang mau mendengar dan berniat mengikutinya. Terutama ketika Rasulullah saw. mendakwahkan kalimat hak, Laa ilaha illallah, kaumnya banyak yang membencinya dan berpaling darinya. Dalam keadaan seperti itu, tanpa sesuatu apa pun, tanpa sahabat serta kawan yang membantunya, kekuatan apa yang menyebabkan beliau berhasil menarik manusia kepada seruannya?
Marilah sekarang kita renungkan, apakah sebenarnya yang beliau seru? sehingga walaupun kaumnya telah menentangnya dengan keras, orang-orang yang telah menerima seruannya akan mengiringi beliau selamanya. Seluruh dunia mengetahui bahwa satu pelajaran saja yang menjadi buah pikiran dan maksud hidup beliau yang sesungguhnya; yaitu apa yang telah beliau tawarkan kepada kaumnya:
"Tidak ada yang kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." (Q.s. Ali Imran : 64).
Ayat tersebut menunjukkan larangan beribadah dan mentaati segala sesuatu selain Allah, dan meninggalkan segala kecintaan terhadap manusia atau benda, lalu menetapkan satu aturan beramal, yaitu menyeru dan beribadah hanya kepada-Nya tanpa berpaling kepada selain Dia.
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikit kamu mengambil pelajaran (dari padanya). (Q.s. Al-A'raf : 3)
Inilah pelajaran sebenarnya yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw., dan kita telah diperintahkan agar menyebarkannya.
"Ajaklah mereka (wahai Muhammad) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik. Dan berdebatlah dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Rabbmu lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk." (Q.s. An-Nahl : 125).
Inilah jalan yang telah ditempuh Rasulullah saw. dan yang juga harus ditempuh oleh setiap pengikutnya.
"Katakanlah (wahai Muhammad), inilah jalanku menyeru ke jalan Allah dengan bashirah. Jalanku dan jalan bagi mereka yang mengikutiku. Mahasuci Allah dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang syirik." (Q.s. Yusuf : 108).
"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (manusia) ke jalan Allah dan beramal shalih, dan ia berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).'" (Q.s. Fushshilat : 33).
Menyeru manusia kepada Allah swt., menunjukkan manusia yang sesat ke jalan yang benar, menunjukkan jalan hidayah kepada orang yang sesat, adalah amalan Rasulullah saw. dan maksud hidup beliau. Dan untuk maksud itulah Allah swt. telah mengutus ribuan Nabi ke dunia.
"Dan tidaklah Kami mengutus Rasul sebelummu, kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa sesungguhnya tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Aku. Maka sembahlah Aku." (Q.s. Al-Anbiyaa: 25).
Apabila kita melihat kehidupan Rasulullah saw. dan para Nabi lainnya yang suci, maka dapat diketahui bahwa seluruhnya mempunyai maksud yang satu, yaitu meyakini sifat-sifat Allah swt.. Inilah makna iman dan Islam, dan untuk itulah manusia dikirim ke muka bumi ini.
"Dan tidak Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (Q.s. Adz-Dzariyat : 56).
Sekarang, jika kita telah mengetahui maksud hidup kita di dunia ini, dan mengetahui dengan jelas penyakit dan pengobatan yang sesungguhnya, maka usaha penyembuhannya pun tidak akan sulit. Dengan pertimbangan tersebut, insya Allah jika cara pengobatan di bawah ini diusahakan akan bermanfaat bagi kita dan membuahkan hasil. Sesuai dengan kepahaman kami yang lemah ini, untuk mencapai kejayaan dan kesuksesan kaum muslimin mesti memerlukan suatu aturan kerja yang dapat mewujudkan contoh hakikat kehidupan Islam atau teladan kehidupan orang-orang terdahulu yang telah berhasil, yang gambaran globalnya akan kami sampaikan di sini.
« Baca Selengkapnya »

Minggu, 31 Agustus 2014

Bayan Jamaah Australia di Masjid Sri Petaling, Malaysia, 4 Muharam 1429 selepas Maghrib.

Bayan Jamaah Australia di Masjid Sri Petaling, Malaysia, 4 Muharam 1429 selepas  Maghrib.
Ringkasan bayan; Setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi saw. dan membaca 2 ayat Al Quran.

1. Allah SWT telah pilih kita untuk lahir sebagai orang Islam. Sebelum kita lahir ke dunia, kita tak pernah diberi pilihan untuk jadi muslim atau kafir. Semata-mata dengan sifat rahim Allah telah jadikan kita seorang muslim. Wajiblah kita bersyukur atas nikmat ini.

2. Allah telah hantar kita sebagai umat Muhammad SAW dengan satu maksud yang sangat besar iaitu sebagaimana maksud semua Nabi telah dihantar.

3. Allah telah jadikan manusia mempunyai jasad dan roh. Perkara paling berharga bagi manusia adalah waktu.. Seorang yang kematian isteri, bisa cari isteri lagi. Seorang yang kematian anak, bisa peroleh anak kembali. Seorang yang rumahnya terbakar, dapat membangun rumah yang lain. Seorang yang perniagaannya bankrut, bisa buat perniagaan yangg lain. Tetapi seorang yang telah berlalu masanya, masa itu tak dapat dikembalikan lagi. Waktu yang berlalu akan terus pergi buat selama-lamanya.

4. Allah begitu kasih kepada orang-orang beriman sehingga menjadikan sekecil-kecil perkara sebagai asbab penghapus dosa. Sehingga tertusuk duri pun Allah akan hapuskan dosa dari buku catatan perbuatan seorang muslim. Diceritakan kisah seoarng raja kafir yang zalim ketika hendak mati berhajat untuk makan sejenis makanan yang sukar dicari. Allah telah perintah malaikat untuk dapatkan makanan itu untuk raja tersebut. Selepas makan, raja itu telah mati. Dalam kisah yang lain pula seorang alim yang wara’ ketika hendak mati telah meminta sedikit air. Setelah orang datang memberi air, Allah telah perintah kepada malaikat untuk tepis cawan sehingga air tertumpah dan orang wara’ itu mati tanpa dapat minum air. Kedua-dua malaikat telah datang menghadap Allah dan mengadukan hal tersebut. Allah berfirman kepada kedua malaikat tersebut bahawa ketika hidup, raja yang zalim tersebut dia telah buat satu kebaikan dan Allah hendak mambalas kebaikan tersebut di dunia dan azab yang kekal menantinya di akhirat kerana kekafirannya. Tetapi orang wara’ tersebut telah berbuat satu dosa ketika hidup dan Allah hendak menghapuskan dosa tersebut ketika di dunia dan memberikan keselamatan kepadanya di akhirat.

5. Di akhirat nanti, orang yang dalam hatinya ada iman walau sebesar zarah akan dikeluarkan juga akhirnya dari neraka. Sedangkan orang kafir akan kekal di dalamnya.

6. Dakwah dan iman adalah dua perkara yang berkaitan. Adanya dakwah maka ada iman. Jika dakwah tiada, maka iman akan keluar dari hati manusia. Nabi Nuh as telah buat usaha dakwah selama 950 tahun siang dan malam. Kemudian beliau as. telah doa supaya jangan ditinggalkan di atas dunia ini walaupun satu orang kafir. Maka Allah  hantar banjir yang besar dan menenggelamkan semua orang kafir. Yang terselamat hanyalah nabi Nuh as dan orang-orang yang beriman. Selepas kewafatan nabi Nuh as, dakwah telah terhenti. Dari keturunan orang yang beriman tadi akhirnya telah kufur kembali.

7. Pada abad 18 masehi, Inggris telah menduduki Australia dan mendapati ada 3 buah gurun yang besar di sana. Untuk menyelesaikan masalah pengangkutan mereka telah membawa 120 ekor unta sebagai pengangkut barang-barang di padang pasir. Oleh kerana mereka tidak tahu mengendalikan unta maka mereka membawa pekerja rodi  dari India yang kebanyakannya berketurunan muslim afghan. Di kalangan para pekerja ini terdapat beberapa ulama ulama. Ulama-ulama ini telah membangun 60 masjid dan 3 diantaranya berusia lebih 100 tahun masih bertahan sehingga kini. Malangnya saat usaha dakwah ditinggalkan, keturunan dari mereka ini tidak kenal Islam walaupun nama-nama mereka mirip nama-nama Islam.

8. Suatu ketika jemaah yang bergerak telah dibawa untuk jumpa 3 wanita tua dari keturunan pekerja-pekerja tersebut, yang masing-masing berumur lebih 85 tahun. Ternyata mereka tak tahu apa-apa mengenai amalan Islam kecuali kalimah Laailaha illallah, Muhammadur rasulullah. Tatkala mereka melihat jemaah memegang tasbih ditangan, mereka mengatakan bapak-bapak mereka dahulu memegang tasbih seperti kamu. Jemaah telah menghadiahkan kepada mereka tasbih tersebut dan mereka merasa sangat gembira
.
9. Laporan satu jamaah lagi yang bergerak di Thursday Island. Di sana, 90% penduduknya adalah keturunan Islam. Tetapi amalan Islam telah lenyap dari diri mereka. Jemaah telah dibawa berjumpa seorang lagi wanita tua berusia lebih 80 tahun. Tatkala wanita tua itu melihat rombongan jamaah (yang dalam keadaan berjanggut, berjubah, bersorban), kemudian ia menjerit dengan mangatakan, ‘Muslim has come, muslim has come.’(muslim telah datang! muslim telah datang!).
Dengan bersemangat wanita tua itu mengeluarkan sebuah tas dari bawah katil dan menunjukkan kepada jemaah peninggalan bapaknya berupa sajadah dan beberapa kitab shalawat. Perempuan tua itu bercerita saat ia berusia 10 tahun, bapaknya  meninggal dunia. Sebelum itu bapaknya sempat berwasiat, ‘You don’t be worry my child. Don’t be sad and don’t be afraid… Muslim will come and take of you because muslim are always taking care of each other.’(Kamu jangan khawatir atau takut, dan jangan pula bersedih hati, Muslim akan datang dan mengurus kamu karena muslim adalah saling menjaga satu sama lain”).
Perempuan tua itu menambah, ‘And I have been waiting for you (muslim) for 70 years.’ (“Dan saya telah menunggu kamu selama 70 tahun).

(*Pembayan mengeluarkan airmata terisak-isak. Juga, kami yang dengar bayan).

10. Pembayan memberi laporan bahwa beliau telah berpindah ke Australia dari Tanah Arab pada tahun 1968. Walaupun ada 80 ribu orang Islam di Melbourne tetapi hanya ada 1 masjid saja. Itupun hanya dibuka 2 kali setahun untuk shalat Ied. Shalat Jum’at hanya didirikan oleh 3-4 orang disebuah surau yang lain. Beliu ada mendengar laporan bahwa jemaah pertama dihantar ke Australia adalah pada tahun 1962. Jemaah ini hanya mampu menangis dan berdoa kala melihat keadaan agama pada umat.

11. Jamaah seterusnya dihantar pada tahun 1973. Jemaah ini balik dan beri laporan kepada Hadraji bahwa orang Islam di Australia sudah tiada harapan. Hadraji tak berputus asa dan menghantar jemaah lagi pada tahun 1974 & 1975. Pada tahun 1975 ini, 3 orang tempatan (termasuk kakak pembayan) telah sedia untuk menghidupkan amalan silaturahmi dari pintu ke pintu untuk bertemu dengan orang-orang Islam. Beberapa lama amalan ini berlangsung, mereka telah bermusyawarah dan memutuskan untuk meminta kunci masjid. Kunci masjid telah diberi kepada mereka dengan senang hati dan semenjak itu masjid tersebut tidak pernah ditutup lagi sehingga ke hari ini.

12. Amal-amal masjid telah dihidupkan. Jamaah-jamaah telah dikirim untuk dakwah dan usaha telah berkembang. Alhamdulillah sekarang telah ada lebih 80 masjid dan surau di Melbourne. Madrasah-madrasah telah wujud. Anak-ank yang dulunya belajar di madrasah sekarang telah mengajar pula. Pembayan berkata dengan matanya sendiri dia dapat melihat apabila dakwah ditinggalkan, dari keturunan ulama sekalipun akan lahir orang-orang kufar. Apabila dakwah dijalankan, meskipun dari keturunan kufar, lahirnya ulama.

13. Kerja ini bukanlah kerja main-main. Bukan kerja yang dibuat kalau suka, dan ditinggal kalau malas. Ini adalah kerja tanggung jawab kita sebagai umat Nabi saw. Ini adalah perintah Allah kepada kita sebagai ‘Khaira Ummah’.

14. Bila kita buat kerja dakwah ini, sesuai janjiNya, Allah pasti akan beri hidayah kepada manusia. Seluruh manusia sekarang sedang menanti-nanti kedatangan kita sebagai orang Islam kepada mereka (seperti kisah orang tua tadi).

Sumber
« Baca Selengkapnya »

Kamis, 21 Agustus 2014

Apa sih Hukumnya Dakwah ???

Sebelum kita membahas hukum dakwah, kita harus tahu dulu apa itu Dakwah ?

Ditinjau dari segi asal kata bahasa, dakwah berasal dari bahasa Arab, yang berarti "Panggilan, ajakan atau seruan". Dalam ilmu Tata Bahasa Arab, kata dakwah berbentuk sebagai "Isim mashdar" (kata yang menunjukkan atas suatu makna yang tidak terikat oleh waktu), kata ini berasal dari fi’il (kata kerja) " da’a-yad’u ",artinya memanggil, mengajak atau menyeru.

Satu orang anak kecil mengajak ayahnya shalat berjamaah ke mesjid, itu sudah termasuk dakwah.
Satu orang ayah memberikan nasehat agama kepada anaknya, itu sudah termasuk dakwah.
Satu orang ibu menyuruh anaknya supaya menutup aurat, itu sudah termasuk dakwah.

Jadi, dakwah itu mudah.

Nabi SAW tidak bisa baca dan tulis pun buat dakwah.

Apa sih Hukumnya Dakwah … ???

1. Sebuah rumah telah terbakar dan didalamnya ada satu orang gadis yang terjebak dalam kebakaran itu.
Apa sih Hukumnya menyelamatkan gadis tersebut … ???

Pernah kah kita berpikir apa hukumnya menyelamatkan satu orang gadis dari siksa api neraka yang 70 kali lebih panas dari api dunia. (Inilah dakwah)

2. Ketika kita berjalan-jalan di pantai dan melihat satu orang anak kecil mau tenggelam. Tindakan apa yang akan kita lakukan … ??? Tentu akan menolongnya, kalau kita tidak menolongnya maka kita akan dikatakan orang yang tidak punya perasaan dan peri kemanusiaan.

Ketika satu orang sudah tenggelam dalam lautan maksiat. Tindakan apa yang akan kita lakukan … ??? (Inilah dakwah).

Didalam hukum negara Indonesia ada sebuah kaidah. “Kita tidak melakukan kesahahan tetapi dihukum”
Contohnya :  Ketika kita berjalan-jalan di pantai dan melihat satu orang anak kecil mau tenggelam dan tidak menolongnya padahal disamping kita ada pelampung. Maka kita akan dinyatakan bersalah karena tidak menolong anak ini. (Untuk lebih jelasnya silahkan bertanya kepada yang faham masalah hukum)

3. Sebuah keluarga yang ayahnya ustadz dan ibunya ustadzah tetapi tidak mendakwahkan agama atau mengajarkan agama kepada anaknya sehingga anaknya tidak tahu masalah agama. Apakah tindakan ayah dan ibu ini baik atau tidak. (Inilah dakwah).

4. Ketika satu orang hendak bunuh diri meminum racun. Maka kita akan melarangnya
Ketika satu orang minum-minuman keras yang hukumnya dosa. Tindakan apa yang akan kita lakukan … ??? (Inilah dakwah).

5. Ketika satu orang berzina dengan ibu, adik, istri atau anak kita maka kita akan marah.
Ketika satu orang berzina dengan orang lain. Tindakan apa yang akan kita lakukan … ??? Padahal setiap orang tidak ingin ibu, adik, istri atau anaknya dizinahi. (Inilah dakwah).

Jadi, Apa sih Hukumnya Dakwah … ???
Silahkan dijawab sendiri …
Apakah kita tidak mau juga buat dakwah … ???

Tahap awal untuk mengenal usaha dakwah luangkanlah waktu 3 hari
« Baca Selengkapnya »

Rabu, 20 Agustus 2014

MANFAAT DAKWAH UNTUK DIRI SENDIRI

Telinga kita, yang paling dekat ke mulut kita. Jadi, segala sesutu yang keluar dari mulut kita. Telinga kitalah yang pertama kali mendengar. Efek dari dakwah yang kita buat pertama kali buat kita bukan untuk orang lain.

Kalau mencuci baju yang pertama kali bersih adalah tangan kita. Baju belum tentu bersih tetapi tangan kita sudah bersih. Dakwah yang kita buat pun begitu yang pertama kali diperbaiki Allah SWT adalah diri kita. Didalam Al Qur’an tidak ada jaminan kalau kita buat dakwah kepada orang lain maka dia akan dapat hidayah tetapi yang ada jaminan. Kalau kita buat dakwah amalan kita akan diperbaki oleh Allah SWT. 

 Allah SWT berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. (QS. Al Ahzab 70-71)

“Perkataan yang benar” dalam ayat ini maksudnya dakwah. Jadi barangsiapa yang buat dakwah “Niscaya” Allah SWT akan memperbaiki amal-amalnya. Jadi. Ada penekanan kata atau jaminan dari Allah SWT “Niscaya” ini sebuah kata kepastian.

Satu orang penjual sate, berpikir kalau saya tidak jualan sate maka orang dikampung ini tidak makan sate. Perlu diingat masih banyak penjual sate yang lainnya. Manfaat yang pertama kali diterima tukang sate adalah untuk dirinya sendri buakn untuk orang lain. Dia akan mendapat keuntungan dari jualan sate dan bisa menghidupi keluarganya.

Jangan kita sampai berpikiran kalau saya tidak buat dakwah orang kampung tidak dapat hidayah. Padahal masih banyak orang lain yang siap dipilih Allah SWT untuk buat dakwah dan manfaat yang sesungguhya adalah untuk kita. Diperbaiki amalan-amalan kita.

Bukti nyata dilapangan sudah banyak dulunya preman sekarang sudah berubah menjadi satu orang dai. Diperbaiki amalannya. Dulu tukang minum dan zina setelah kenal usaha dakwah diperbaiki amalannya oleh Allah SWT. Karena itu janji Allah SWT kepada siapa saja yang buat dakwah.

Allah SWT berfirman : Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. (QS. Al Insaan 20)

Allah SWT berjanji akan memberikan kerajaan yang besar. Yang mengatakan besar itu Allah SWT. Kalau Allah yang mengatakan besar kita tidak akan sanggup untuk membayangkannya. Padahal dunia ini kecil dalam pandangan Allah SWT hanya sebelah sayap nyamuk.

Allah SWT berfirman : Dan sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. As Sajdah 32)

Bisakah kita membayangkang azab yang besar dari Allah SWT.

Mike Tyson mengatakan kepada kita, ku tumbuk kau nanti. Kita sudah bisa membayangkan. Mungkin kita bisa langsung pingsan atau langsung mati. Tetapi bagaman pula kalau Allah SWT yang mengatakan, ku tumbuk kau nanti. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya.

Begitu jugalah dengan janji Allah SWT, kita diberi kerajaan yang besar yang mengatakan besar itu yang maha besar juga.

Selain Allah SWT memperbaiki diri kita kita juga dapat mengambil manfaat dari orang yang kita ajak. Mendapat pahala yang sama seperti orang yang kita ajak.

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap yang ma`ruf adalah shadaqah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapat pahala) seperti pelakunya” (HR. Bukhari Muslim)

Dari Abu Hurairah "Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk niscaya untuknya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, hal itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." (HR. Muslim)

Semua makhluk yang ada dipermukaan bumi ini bersyalawat dan memohonkan ampun kepada orang-orang yang buat usaha dakwah. Para malaikat, penghuni langit dan bumi, hingga semut di lobangnya dan ikut mengucapkan shalawat.

"Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, hingga semut di lobangnya dan ikut mengucapkan shalawat kepada yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR. at-Tirmidzi)

Dan bukan hanya sampai disitu ketika kita mati, pahalanya pun akan terus mengalir bagaikan aliran air bah kepada kita. Itulah ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada orang lain itulah dakwah.
"Apabila manusia meninggal dunia terputusnya amalnya kecuali dari tiga perkara: sedakah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya." HR. Muslim.

Jadi usaha dakwah ini adalah sarana untuk memperbaiki diri kita bukan memperbaiki orang lain. Karena dakwah itu sendiri paling banyak manfaatnya untuk kita. Semakin banyak kita berkorban maka sejauh itulah Allah SWt akan perbaiki diri kita.

« Baca Selengkapnya »

Selasa, 19 Agustus 2014

Pikir Ummat

Nabi SAW selalu berpikir bagaimana bayi yang pertama kali lahir dan bayi yang terakhir kali lahir semuanya mendapat hidayah dari Allah SWT. 
Aisyah pernah meminta agar didoakan Nabi SAW, “Ampunilah dosa Aisyah yang lalu dan yang akan datang. Aisyah bukan main senangnya sampai berguling-guling. Nabi SAW bertanya : mengapa engkau begitu senang, ya humairoh?. Aisyah menjawab siapa yang tidak senang didoakan oleh kekasih Allah SWT. Nabi SAW mengatakan : ummat ku setiap harinya 5 kali aku doakan. Inilah sayangnya nabi SAW kepada ummat.
Ketika Isra' Mi'ra penghulunya malaikat (Jibril As) dan penghulunya manusia (Nabi Muhammad SAW) sama mengadakan perjalanan. Setelah sampai di batas yang ditentukan Jibril berkata : Ya Nabi Allah, saya tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan. Kalaulah Aku melangkah satu langkah saja. Niscaya aku akan binasa. Jadi, perjalanan dilanjutkan Nabi SAW untuk berjumpa dengan Allah (Disini menunjukkan bahwa manusia itu lebih mulia dari pada malaikat). Kemudian terjadi dialog antara Nabi SAW dan Allah SWT :
Nabi SAW berkata : “Attahiyyatul Mubarakaatush sholawaatuth thayyibatu lillaah”. “Ya Allah, segala penghormatan, keberkahan, sholawat dan kebaikan hanya milik-Mu ya Allah”
Allah SWT pun berfirman : “Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh”. “Wahai Nabi selamat sejahatera semoga tercurah kepada Engkau wahai Nabi Muhammad, semoga juga Rahmat Allah dan Berkah-Nya pun tercurah kepadamu wahai Nabi” 
Nabi SAW berkata : “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”. “Semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan hamba-hamba-Mu yang sholeh”. 
Nabi SAW ketika itu masih mendokan kita : “Semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan hamba-hamba-Mu yang sholeh”. Begitulah sayangnya Nabi SAW kepada kita. 
Ummat ku yang shaleh, Ya Allah. Pikir ummat, Inilah sayangnya nabi SAW kepada ummat.
Ketika Nabi SAW hendak meninggal dunia, malaikat Jibril berkata : Ya Kekasih Allah, hari ini surga sudah dihias seindah mungkin. Untuk menyambut kedatanganmu. Nabi SAW bertanya : Wahai Jibril, itu untuk-KU, apa untuk ummat ku. Nabi SAW pun masih ingat kepada kita. Malaikat Jibril berkata : Akan diharamkan ummat terdahulu masuk surga, sebelum ummatmu masuk surga. Nabi SAW jadi lega mendengar hal itu. 
Ketika malaikat Izrail hendak mencabut nyawa Nabi SAW. Beliau bertanya : Apakah seperti ini juga nanti yang dirasakan ummatku. Malaikat Izrail menjawab : Ini yang paling ringan. Nabi SAW menangis bagaimana nanti dengan ummat-Ku, mereka nanti akan merasakan kesakitan yang luar biasa. Nabi SAW berdoa : Ya Allah, Engkau limpahkanlah semua kesakitan sakaratul maut ummat-Ku kepada KU, supaya mereka tidak merasakan kesakitan sakaratul maut. Di saat sakaratul maut pun Nabi SAW masih memikirkan ummatnya.
Sehingga akhir dari lisan Nabi SAW. Ummati, Ummati, Ummati. 
Tetapi kita sebagai ummat-Nya jarang sekali mengingat Nabi SAW.
Orang yang pertama kali nantinya dibangkitkan adalah Nabi SAW. Ketika Nabi SAW telah dibangkitkan, Beliau bukan bertanya : Mana istriku Khadijah, mana anakku Fatimah, mana cucuku Hasan dan Husin tetapi yang ditanya oleh Nabi SAW adalah Aina ummati, Aina ummati, Aina ummati dimana ummatku, dimana ummatku, dimana ummatku. 
Ketika hendak menyeberangi titian Shirotol Mustaqim, para nabi berkata : Robbi Sallimna, selamatkan Saya. Tetapi Nabi SAW berkata sambil berdiri di penghujung titian : Robbi Sallim Ummati, selamatkan ummatku. Disaat itu manusia jatuh keneraka seperti hujan. Titian Shirotol Mustaqim itu 500 tahun mendaki, 500 tahun mendatar, 500 tahun menurun. Melihat keadaan ini Nabi SAW menangis dan terus berkata : Robbi Sallim Ummati, Robbi Sallim Ummati, Robbi Sallim Ummati. 
Begitulah sayangnya Nabi SAW kepada ummat. 
Apalagi kita sebagai ummat akhir zaman Nabi SAW sangat sayang kepada kita. 
Nabi SAW bersabda : “Sungguh aku sangat ingin berjumpa dengan saudara-saudaraku,” Seorang sahabat ra bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Rasulullah SAW menjawab, “Kalian adalah sahabat-sahabatku, sedangkan saudara-saudaraku adalah orang-orang yang beriman kepadaku padahal mereka belum pernah berjumpa denganku.” (Hr. Ahmad)
“Sungguh beruntung orang yang beriman kepadaku dan pernah melihatku (Nabi SAW sabdakan demikian satu kali). Dan sungguh beruntung (Nabi SAW sabdakan hingga tujuh kali) orang yang beriman kepadaku padahal ia tidak pernah melihatku! (Hr. Ahmad)
Nabi SAW adalah orang yang paling di cintai oleh Allah SWT, kenapa? Karena Nabi SAW adalah orang yang paling banyak mengajak ummat untuk mencintai Allah SWT. 
Kalau kita juga mau di cintai Allah SWT, ajaklah manusia sebanyak-banyaknya mencintai Allah. Maka Allah SWT akan semakin cinta kepada kita. 
Bagaimana pikir Nabi SAW menjadi pikir kita
Bagaimana risau Nabi SAW menjadi risau kita
Bagaimana ummat selamat dari azab yang pedih
« Baca Selengkapnya »